Pendidikan Modern dan Krisis Adab: Mengembalikan Jiwa Pendidikan di Tengah Perubahan Zaman
Penulis: Fistra Deka Elvira, Mochammad Sukma Mahdi Mawahib Ali Sa’bana
Pendidikan sering dipahami sebagai jalan menuju masa depan yang lebih baik. Melalui pendidikan, seseorang memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidup. Namun, di tengah perkembangan teknologi yang bergerak begitu cepat, ada pertanyaan penting yang perlu kembali diajukan: apakah pendidikan masih benar-benar menjadi ruang untuk memanusiakan manusia?
Pertanyaan tersebut semakin relevan ketika berbagai persoalan adab masih ditemukan di lingkungan pendidikan. Kemudahan memperoleh informasi melalui internet dan perangkat digital telah membuat proses belajar menjadi lebih terbuka. Murid dapat menemukan berbagai pengetahuan dalam hitungan detik, tanpa dibatasi ruang dan waktu. Akan tetapi, kemudahan memperoleh informasi tidak selalu berjalan seiring dengan kedewasaan dalam bersikap.
Perundungan, kebiasaan menyontek, kurangnya penghormatan kepada guru, hingga meningkatnya sikap individualistis menjadi sejumlah persoalan yang menunjukkan bahwa kemajuan pendidikan tidak cukup hanya diukur dari kecanggihan teknologi atau capaian akademik. Di balik berbagai inovasi pembelajaran, pendidikan tetap membutuhkan fondasi nilai dan adab.
Ketika Pendidikan Terlalu Sibuk Mengejar Angka
Sekolah pada dasarnya tidak hanya bertugas menyampaikan pengetahuan. Pendidikan juga memiliki tanggung jawab untuk membantu murid membangun karakter, moral, tanggung jawab, dan kebijaksanaan. Namun, pendidikan modern sering kali bergerak dalam tekanan pencapaian yang dapat diukur, seperti nilai ujian, angka kelulusan, prestasi, dan kesiapan memasuki dunia kerja.
Ukuran tersebut tentu penting. Persoalan muncul ketika keberhasilan pendidikan hanya dilihat dari aspek tersebut. Murid dapat menjadi terampil mengejar target, tetapi belum tentu memiliki kesempatan yang cukup untuk memahami mengapa pengetahuan itu penting dan untuk apa kemampuan tersebut digunakan. Budaya kompetisi juga dapat membuat murid lebih terbiasa mengejar posisi sebagai yang terbaik daripada belajar menghargai orang lain.
Padahal, setiap murid memiliki pengalaman, harapan, perasaan, dan potensi yang berbeda. Pendidikan tidak semestinya menjadikan angka sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Kemampuan bekerja sama, bersikap jujur, bertanggung jawab, menghargai orang lain, dan memiliki kepedulian sosial juga merupakan bagian penting dari perkembangan murid.
Teknologi Maju, tetapi Adab Tidak Boleh Tertinggal
Perkembangan teknologi membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Internet membuka akses terhadap berbagai sumber belajar dan memungkinkan murid belajar tanpa batas tempat dan waktu. Guru pun memiliki lebih banyak pilihan dalam merancang pembelajaran yang kreatif dan kontekstual.
Namun, teknologi pada dasarnya hanyalah alat. Ia dapat memperluas pengetahuan, tetapi tidak secara otomatis membentuk karakter. Murid dapat mengetahui banyak hal, tetapi tetap membutuhkan bimbingan untuk memahami bagaimana pengetahuan tersebut digunakan secara bertanggung jawab.
Hal ini semakin penting di tengah budaya media sosial. Popularitas dan pencitraan dapat menjadi sesuatu yang sangat menarik bagi anak muda. Dalam kondisi tertentu, penampilan di ruang digital lebih diperhatikan daripada proses belajar yang sesungguhnya. Karena itu, pendidikan perlu membekali murid bukan hanya dengan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan menyaring informasi, menjaga etika komunikasi, menghargai orang lain, dan bertanggung jawab atas tindakan di ruang digital.
Krisis Adab Bukan Sekadar Masalah Perilaku
Ketika seorang murid menyontek, persoalannya tidak berhenti pada pelanggaran aturan sekolah. Kebiasaan tersebut juga menunjukkan bahwa nilai kejujuran belum sepenuhnya tertanam. Begitu pula ketika terjadi perundungan atau ketika murid tidak menghargai guru dan teman. Persoalannya bukan hanya mengenai perilaku yang salah, tetapi juga mengenai nilai yang belum tumbuh secara kuat.
Karena itu, krisis adab tidak cukup diselesaikan hanya dengan menambah larangan dan hukuman. Pendidikan perlu melihat persoalan tersebut sebagai bagian dari orientasi pendidikan secara keseluruhan. Jika sekolah terlalu sibuk mengejar prestasi, tetapi kurang memberi ruang untuk membangun empati, dialog, refleksi, dan tanggung jawab, pendidikan dapat kehilangan sebagian dari maknanya.
Pendidikan seharusnya tidak hanya menjawab pertanyaan tentang bagaimana seseorang menjadi sukses, tetapi juga membantu murid memahami untuk apa kesuksesan tersebut digunakan. Pengetahuan dan keterampilan akan memiliki makna yang lebih besar ketika digunakan secara bertanggung jawab dan memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.
Mengembalikan Pendidikan kepada Nilai Kemanusiaan
Pemikiran Ki Hajar Dewantara memberikan dasar penting bahwa pendidikan merupakan proses menuntun tumbuhnya anak agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Pendidikan tidak berhenti pada kemampuan intelektual, tetapi juga berkaitan dengan perkembangan cipta, rasa, dan karsa.
Gagasan tersebut tetap relevan di tengah pendidikan yang semakin digital. Murid membutuhkan kecerdasan untuk memahami berbagai persoalan, rasa untuk membangun empati, serta karsa untuk mengambil tindakan yang bertanggung jawab. Ketiganya perlu berjalan bersama agar perkembangan intelektual tidak terpisah dari perkembangan moral.
Pemikiran Paulo Freire juga menempatkan pendidikan sebagai proses dialog yang membebaskan, bukan sekadar kegiatan memindahkan informasi dari guru kepada murid. Murid perlu diberi ruang untuk bertanya, menyampaikan pendapat, memahami realitas di sekitarnya, dan berpikir kritis. Dengan demikian, pembentukan adab bukanlah tugas satu mata pelajaran tertentu, tetapi bagian dari keseluruhan budaya sekolah.
Guru sebagai Teladan
Dalam upaya mengembalikan jiwa pendidikan, guru memiliki peran penting. Guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga menjadi sosok yang diamati murid setiap hari. Cara guru berbicara, bersikap, menghadapi masalah, memperlakukan murid, dan merespons perbedaan dapat menjadi pembelajaran yang lebih kuat daripada sekadar nasihat.
Prinsip keteladanan Ki Hajar Dewantara menunjukkan bahwa pendidikan membutuhkan figur yang dapat menjadi contoh. Murid akan lebih mudah memahami tanggung jawab ketika melihat gurunya bertanggung jawab dan lebih mudah belajar menghargai orang lain ketika diperlakukan dengan hormat. Karena itu, penguatan adab perlu menjadi tanggung jawab bersama dalam budaya sekolah.
Sekolah sebagai Ruang Tumbuh
Sekolah yang baik bukan hanya sekolah dengan fasilitas lengkap atau prestasi yang banyak. Sekolah juga perlu menjadi tempat di mana murid merasa dihargai, aman untuk bertanya, berani menyampaikan pendapat, dan memiliki kesempatan untuk belajar dari pengalaman.
Budaya sekolah yang humanis dapat dibangun melalui kebiasaan sederhana: komunikasi yang saling menghargai, ruang dialog, kerja sama, penyelesaian konflik secara adil, serta penghargaan terhadap proses belajar. Cara melihat keberhasilan murid pun perlu diperluas. Nilai akademik tetap penting, tetapi integritas, tanggung jawab, kemampuan bekerja sama, dan kepedulian sosial juga perlu diperhatikan.
Pembelajaran yang kontekstual dapat menjadi salah satu jalan untuk mewujudkannya. Ketika murid dihadapkan pada persoalan nyata, mereka tidak hanya belajar memahami konsep, tetapi juga belajar mengambil keputusan, mempertimbangkan dampak tindakan, bekerja sama, dan memahami nilai dalam kehidupan sehari-hari.
Menghadirkan Kembali Jiwa Pendidikan
Krisis adab dalam pendidikan modern menunjukkan adanya kebutuhan untuk menyeimbangkan perkembangan intelektual dengan perkembangan moral dan sosial. Teknologi dapat membantu pendidikan bergerak lebih cepat, tetapi pendidikan tetap membutuhkan manusia yang memiliki arah dan nilai.
Mengembalikan adab dalam pendidikan bukan berarti menolak modernisasi. Yang dibutuhkan adalah keseimbangan antara teknologi dan kemanusiaan, pengetahuan dan kebijaksanaan, prestasi dan integritas, serta kebebasan dan tanggung jawab.
Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya terlihat dari seberapa banyak pengetahuan yang dikuasai murid, tetapi juga dari manusia seperti apa yang tumbuh setelah mereka melewati proses pendidikan. Pendidikan akan benar-benar memiliki jiwa ketika mampu menjadikan manusia lebih cerdas sekaligus lebih manusiawi.
Ingin Menerbitkan Karya Sekaligus Melindungi Hak Cipta?
Jangan biarkan tulisan, opini, atau karya akademik Anda dibajak! Publikasikan dan daftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) karya Anda bersama Media Tulisan Manusia agar aman dan bernilai tinggi.
Mulai Langkahmu