Patah Yang Tumbuh
Penulis: Abil.naj
“Tuhan, bisakah aku merasakan bahagia barang sedikit saja?”
Di bulan November tahun kemarin, aku menemukanmu. Kamu yang awalnya berperan menjadi rekan kerja kelompok, hingga kamu yang menjadi rekan untuk menemani kehidupanku selama kurang lebih dari enam bulan.
Saat pertama kali mengenalmu, aku memang merasa jika kamu berbeda dengan laki-laki pada umumnya. Kamu yang mampu membuatku merasa bahagia dan kesal di detik yang bersamaan. Kamu yang bisa menenangkanku ketika aku merasa kacau. Dan kamu, yang mampu membuatku benar-benar lupa pada seseorang yang telah menyakitiku di tahun sebelumnya.
Beberapa bulan menjadi kekasihmu, aku merasa ada sesuatu yang berbeda. Aku merasa jika kamu selalu bertindak semaumu sendiri. Aku paham jika seorang kekasih memang tak berhak melarang ini dan itu. Tapi ini bukan tentang berhak atau tidak. Melainkan tentang rasa menghargai sebagai seorang kekasih. Apakah benar, kamu menganggap aku sebagai kekasih?
Ucapanmu memang membuatku percaya, tapi tidak dengan perbuatanmu. Perbuatanmu seolah menggambarkan sangat ingin lepas dari dekapanku, berbanding terbalik dengan ucapanmu yang seolah memintaku untuk terus berada di sisimu. Lantas, apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus terus menetap di sisimu, walaupun kau selalu mengacuhkanku?
Kau tahu jika aku sangat mencintaimu, tapi apakah kau juga melakukan hal yang sama? Kurasa tidak, karena kau tak pernah menunjukkan rasa pedulimu terhadapku. Aku tahu jika aku memang bodoh. Tapi aku tidak sebodoh itu untuk terus percaya dengan ucapanmu.
Setelah berada dalam hubungan bersamamu, tepat di bulan kelima di tahun ini, aku kembali merasakan patah hati yang kedua kalinya. Itu semua karena ulahmu. Kamu yang telah berjanji untuk membuatku tersenyum, ternyata kamu membuatku menangis. Kamu yang memintaku untuk menetap di sisimu, ternyata kamu memintaku untuk pergi.
Jika memang itu permintaanmu, maka akan kukabulkan. Karena sebenarnya, aku juga sudah tidak tahan jika harus berlama-lama menjadi kekasihmu.
Entah butuh waktu berapa lama untuk aku melupakan rasa terhadapmu. Yang pasti aku ingin sembuh melalui waktu. Walaupun prosesnya lama, tapi setidaknya aku bisa benar-benar lupa, meskipun melupakan itu sangat tidak mungkin.
Dalam proses melupakan rasaku, aku bertemu dengan seseorang dari masa lalu. Dia adalah laki-laki yang sering memberiku nasihat agar aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Dia yang selalu membuatku merasa kesal dengan ucapannya. Dan dia, yang mempunyai gigi gingsul yang selalu ingin aku lihat.
Aku dan dia tidak sengaja bertemu di tempat rekreasi. Saat itu aku bersama dua saudaraku memang mengikuti acara rekreasi dari sekolah. Dan ternyata dia juga ikut, karena dia merupakan guru di sekolah itu.
Di sana, dia dengan sengaja mengajakku berjalan bersama. Karena kita berdua memang tidak pernah bertemu, dia bertanya bagaimana kehidupanku akhir-akhir ini. Aku menjawab bahwa aku baru saja putus cinta, dan itu malah membuatnya tertawa. Dia bahkan berkata, “Lagian kamu sudah saya bilangin gak boleh pacaran kok ngeyel.” Sungguh menyebalkan bukan?
Karena dia tahu jika aku masih patah hati, dia lalu mengajakku menaiki beberapa wahana untuk sekadar mengurai tawa. Dan benar saja, jika aku berhasil tertawa karena ulahnya. Bagaimana tidak tertawa, jika dia saja selalu melontarkan candaan lucu yang sangat sayang untuk tidak ditertawakan.
Setelah banyak wahana yang kami naiki, wahana terakhir yang ingin dia rasakan adalah rumah hantu. Mendengar kata hantu saja membuatku takut, apalagi jika aku masuk? Ya walaupun hantunya adalah hantu palsu, tapi tetap saja mereka akan berpenampilan menakutkan bukan?
Awalnya aku menolak ajakannya, tapi dia memaksaku untuk masuk. Jadi mau tidak mau, aku mengiyakan ajakannya untuk masuk ke dalam rumah hantu tersebut.
Tepat ketika giliran kami masuk, tanpa sadar aku sudah merangkul lengannya erat. Aku melakukan itu karena aku memang penakut.
Ketika dia menyadari jika aku merangkul lengannya erat, dia bertanya, “Kamu takut?”. Tanpa membuka suara, aku hanya mengangguk mengiyakan dan dia membalasnya dengan tertawa ringan.
Sepanjang perjalanan di dalam rumah hantu tersebut, aku tetap enggan melepas rangkulanku dengan sesekali memejamkan mata jika ada hantu yang melintas. Tanpa kusadari, ternyata dia mengusap permukaan tanganku supaya aku tak terlalu merasa takut. Dia juga mempercepat langkah kakinya agar cepat sampai di pintu keluar.
10 menit kemudian, cahaya dari pintu keluar sudah terlihat. Di situ aku segera melepas rangkulanku karena takut membuatnya tidak nyaman. Saat berhasil terlepas, aku berusaha untuk membuat jarak dengannya agar tidak terlalu dekat. Tapi bukannya menjauh, aku malah kembali dekat dengannya karena dia menggenggam jemariku.
Demi Tuhan, jantungku saat itu kembali berdetak dengan kencang seperti ketika aku bersamamu. Hati yang tadinya mati, seakan terasa hidup kembali. Aku yakin jika ini adalah rasa sesaat. Tapi itu salah besar. Karena hingga detik ini, aku masih terus memikirkannya. Senyuman yang memperlihatkan gigi gingsulnya itu seakan selalu terpampang jelas di mataku.
Dengan sisa kepercayaanku yang telah hancur karena ulahmu, aku kembali menaruh kepercayaan itu kepada dia. Mungkin saat ini aku memang sedikit merasa trauma untuk jatuh cinta lagi. Namun dalam hati, sepertinya aku menaruh harap kepadanya. Aku berharap jika dia benar-benar peduli dan mencintaiku seperti aku mencintaimu kemarin.
Tuhan, kumohon. Untuk kali ini, tolong jangan permainkan perasaanku kembali.
Punya Kisah yang Ingin Diceritakan?
Jangan biarkan naskah cerpen atau novel Anda hanya tersimpan di memori. Wujudkan menjadi buku ber-ISBN/QRCBN bersama Media Tulisan Manusia.
Mulai Langkahmu