Logo
Kembali Beranda
Cerpen Sastra

Segenggam Luka Menuju Jaya

Penulis: Amanda

Ilustrasi Segenggam Luka Menuju Jaya

"Karena bagaimanapun, untuk mendapatkan cinta yang setara, perjuangan saya juga harus tiada tara."

Ini adalah kisahku. Aku adalah perempuan yang terlahir dari keluarga yang sederhana. Namun sedari kecil aku mengagumi seseorang dari keluarga yang sangat berada. Rasa kagum hanya sekadar kagum, yang mana mungkin seorang kurcaci menggapai bulan.

Perasaanku kala itu, aku berusia tujuh belas tahun. Rasa itu tumbuh di saat ia datang di pesta ulang tahunku. Kebetulan, ia juga tetanggaku. Siapa juga yang tidak jatuh cinta melihat sosok yang kehidupannya serba ada, namun gaya hidupnya sederhana? Dengan mata yang sayu, badan berisi, namun lekuk tubuh indah, siapa yang tak doyan? Kepintaranlah yang membuat saya penasaran karena isi kepalanya ada-ada saja, sedangkan isi celana hanya itu saja.

Namun, aku tidak berani untuk mengambil tindakan apa pun pada saat itu. Aku membiarkan aku dengan hidupku, begitupun aku membiarkan dia meraih tujuannya, hidupnya. Aku berpikir nanti jika sudah pantas pasti Tuhanlah yang mengatur jalan. Khayalan anak berusia tujuh belas tahun pada masa itu.

Sembari menunggu Tuhan memberikan jawaban akan doaku, aku mempersiapkan segala hal agar aku bisa setara dengan dia. Karena dia adalah santri, aku juga ingin memantaskan diri. Usai acara ulang tahunku ke-17, aku mendaftarkan diri di salah satu sekolah yang dilengkapi pondok pesantren. Padahal aku seorang anak manja yang mustahil bisa lulus dari pesantren, namun semua bisa tuntas terlewati hingga saya lulus dengan sempurna.

Tiga tahun terlewati, menginjak usia saya yang ke-19 tahun. Saya pulang kampung dan tidak sengaja menjumpainya. Percaya tidak percaya, kala itu dia menjabatkan tangan kepadaku. Rasa gemetar menjalar di sekujur tubuh saat dia berbicara, “Hai, bagaimana kabarmu? Makin cantik saja peri kecilku.” Pada saat itu juga dia meminta nomorku, hingga akhirnya kami berkomunikasi setiap harinya.

Seminggu berjalannya waktu, dia mengajakku berkencan di malam Minggu. Rasa hati berdegup kencang, mungkin ini jawaban atas doa dan usahaku memintanya kepada Tuhan. Saat itu juga dia mengatakan bahwa dia dari dulu mempunyai perasaan yang lebih terhadapku. Plot twist, memang sama-sama saling menunggu. Tak berhenti di situ, rasa kaget tak hentinya ketika dia memintaku untuk menemaninya sidang skripsi di kampusnya. Tidak perlu heran karena kita memang terpaut beda usia 5 tahun.

Hari telah berlalu, rasa gembira dan gelisah bercampur aduk dalam hidupku. Rasa gembira karena cinta yang terbalas, gelisah karena bingung setelah lulus mau kuliah atau bekerja, karena keadaan usaha orang tua sedang memburuk kala itu. Namun, Tuhan kembali menyadarkan begitu besar anugerah-Nya melalui sosok dia. Sosok yang tenang dan berwawasan luas itu merangkul pundakku sembari menasihatiku, “Take a break for your life.” Di situ aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah di tahun depan dengan segala pertimbangan.

Setahun berlalu, proses demi proses terlewati dengan adanya dia yang tak lelah mendampingiku di masa sulitku. Aku berhasil mendapatkan keinginanku untuk melanjutkan pendidikanku sampai ke jenjang perguruan tinggi, karena bagaimanapun, untuk mendapatkan cinta yang setara, perjuangan saya juga harus tiada tara.

Ilustrasi Pendukung Segenggam Luka
👁️ Dilihat 1.850 kali

Punya Kisah yang Ingin Diceritakan?

Jangan biarkan naskah cerpen atau novel Anda hanya tersimpan di memori. Wujudkan menjadi buku ber-ISBN/QRCBN bersama Media Tulisan Manusia.

Mulai Langkahmu